Woensdag 24 September 2014

PUISI dan PUISI dari LERENG MERAPI


RINDUKU PADA DARA KOTA PANTAI UTARA SUMBA

Waingapu
membara terik menyeruak ditengah kemarau
saat kujejak langkah
di kota
yang lama kutinggalkan
ada galau menyesak
memburu rinduku
kusimpan entah dimana

Waingapu….
memukul rumbai-rumbai laut membasah
menepis perasaan yang lama kupendam
pada dara kota pantai utara sumba
dia ada dimana
ingin ku menagih janji
bertemu di tepi Nangamesi

Waingapu…
masih juga rindu ini membara
pada dara kota pantai utara sumba
melawan angin yang mendesis
dirimbun cemara disudut kota
masihkah rindu ini
menuai janji
atau terkubur bersama lalunya waktu
dan usia direngut hari

Waingapu…
entahlah…
aku hanya ingin kembali ke sana….

Mrican Baru , 14 Februari 2013 (Umbu KR Mouwlaka)

BIARLAH DI SANA
rembulan menyapa lalu pergi
pada harap
tak jua sampai
ketika dan waktu tak berbatas
lepas dan lalu
ajakmu kutitipkan pada rembulan
biarlah dia disana
menunggu serah.
Magelang (Kwilet), 20 Oktober 2013

                   LELAKI DI KAKI BOROBUDUR
                   menatap bebatuan tua borobudur
                   jadi ingat kampung-kampung tua tanah sumba
                   jadi ingat kuburan-kuburan tua
                   jadi ingat lelaki-lelaki tua 
                   jadi ingat kisah-kisah tua 
                   jadi ingat lagu-lagu tua
                   jadi ingat kisah-kisah cinta yang sudah tua
                   jadi ingat…   
                   mungkin engkau yang sudah tua di tanah sumba

                   adakah memang sumba sudah tua dan tidak menarik?
                   adakah memang sumba hanya untuk yang tua-tua?
                   adakah memang yang ada sudah tua-tua?
                   lelaki sumba terkapar mengeluh di kaki candi
                   menyapa mentari yang juga sepanas mentari sumba
                   di sini
                   ingin kuukir wajahmu dibebatuan candi
                   ingin kubisikkan namamu di puncak stupa
                  dan kuproklamasikan cintaku….., di sini

                   lelaki di kaki borobudur
                   merenung tercenung
                  merapat di bebatuan tua
                  dan menjadi tua

                  kaki merapi, periode 2011
                  Umbu K.R.

   
KEPADAMU AKU INGIN CERITERA

kepadamu aku ingin menulis
kepadamu aku ingin ceritera
adalah tanah tua di tenggara nusantara
dimana zandel menari di rerumputan sabana
membawa lelaki tangguh tanpa pelana di punggungnya
menggiring ongole dan kerbau sumba
meski sabana sering kerontang di bulan kemarau
membawa debu merah tanah sumba
bercampur lalang-lalang tua
luruh dimakan kemarau
menyerak di bebatuan tua

aku masih ingin ceritera
tentang kuburan batu tua
tentang rumah-rumah tua di kampung tua
ada di rende
ada di karera 
ada di anakalang 
ada di kodi
ada di baingu
ya, menyerak di seantero sumba
berceritera betapa tuanya tanah sumba
ada kombu  ceritera tentang sakralnya
legenda tanah sumba
ada kawuru  bergambar zandel
ada anahida  berhiaskan mamuli

aku masih ingin terus ceritera
di tanah tua itu
seakan waktu terhenti
membentang masa lalu
dengan gadis-gadis cantik
berbibir merah bukan gincu
riang menyanyikan lagu-lagu cinta
memuja kekasih pengembara padang sabana
membawa kendi dikepala
berisi air sungai jernih

ya, aku terus ceritera
seribu zandel terus turun menggemuruh
di kaki-kaki bukit yang jauh
memburu hijau rerumputan di sabana tua
ditingkah nyanyian tekukur  di kejauhan
sumba tanah leluhur
sumba tanah legenda
kalau ada sempat
datanglah kesana
seperti aku
ingin selalu kembali
rindu pada kabokangu 
rindu pada kadingangu
Rindu pada harama
ketika gong dipukul bertalu
dan tambur mengguncang sukma
menjangkau negeri
ama pakawurungu 
ina pakawurungu 
di langit ketujuh
menuju sang Khalik

yogya, 24 April 2004
umbu katuangu retang
----------------- 
KUTULIS SURAT INI UNTUK SUMBA

ku tulis surat ini untukmu Sumba
terakhir kita bertemu
ketika papa tiada
kembali pada sang Khalik
aku masih disini
dan mungkin terus disini
di rantau

kalau rindu
kucari kau didunia maya
membawa rinduku
mataku kerap nanar memandang wajah lelaki tua
dalam balutan kombu dan kapauta merah
dan kumpulan zandel
menyapa mentari di senja temaran
kalau saja sempat
ingin kembali menjejak langkah
meski panas kemarau membakar nadi
mengalirkan peluh
bagai sungai tanah kambera

kutulis surat ini untukmu Sumba
ya, karena aku rindu
aku rindu tanah leluhur
aku rindu negeri marapu 
pada celoteh kakatua, dan
nyanyian tekukur pagi hari

ya, aku rindu
rinduku pada sumba
adalah rinduku pada bukit kapur
dan lebatnya ilalang
rinduku pada sumba
adalah rindu pada sabana menggiring zandel
rinduku pada sumba
adalah rindu pada gong bertalu dan gemuruh tambur
mengiring hentak kaki penari
rinduku pada sumba
adalah rinduku pada jagung bakar dan dendeng bakar
rinduku pada sumba
adalah rindu lelaki rantau
yang mulai letih dikembaranya yang panjang
ya, aku rindu pada sumba
rinduku tetap membahana
membakar gairahku ingin kembali

kalau ada sempat
kutulis lagi surat untukmu Sumba
titip salam dan rinduku
untuk mama


yogyakarta, 24 April 2004
umbu katuangu retang
------------------
TULISLAH TENTANG SUMBA
(Untuk Bung Garin Nugroho)


Bung Garin,
angin rumput savana tetap menipis dalam kebisuan
berlari dipucuk-pucuk lalang kering coklat tua
di bukit-bukit tanah sumba
membawa sisa-sisa embun malam
menetes di pagi kemarau bening
tulislah tentang sumba
tanah di selatan khatulistiwa
tulislah tentang zandelwood
tentang cendana
tentang gaharu
atau tentang kain kombu molek melilit tubuh
tulislah tentang umbu
tulislah tentang rambu
penjaga tanah leluhur

Bung Garin,
galilah budaya tana marapu
tanah dengan adat membesi
mewarnai sudut-sudut tanah sumba
aku bangga di sini
ada surat untuk bidadari
ada angin rumput savana
tapi di sana juga masih ada savana terbakar
membawa asap duka menghitam tanah leluhur

Bung Garin,
katakanlah kepada dunia
bahwa ada sebuah tanah tua
tanah sumba di nusantara ini
dimana seribu sandel turun menggemuruh
dari kaki-kaki bukit yang jauh
masih ada lenguh ongole
di padang-padang savana

Bung Garin,
sumbaku adalah sumbamu juga
leluhurku adalah leluhurmu juga
karena kita sama-sama anak negeri ini
dari sini
aku tetap rindu akan sumba
adalah rindu lelaki sumba
memacu zandel di padang-padang kering savana
menembus celah-celah bukit karang

Bung Garin,
tulislah tentang sumba

Yogyakarta, 26 April 2004
umbu katuangu retang
  ---------------------
SUATU KETIKA DI TANAH SUMBA

menyapa siang gersang
dibawah dedaunan kosambi  rontok satu-satu
dan tekukur enggan melintas
pada siang yang coklat membara
memberitakan bahwa tanah ini lagi kemarau
membawa angin tenggara dan selatan tanah sumba
melewati krikil-krikil sungai
lepas satu-satu
ah,
saya jadi ingat di lambanapu
ada bendungan membagi air
membasahi tanah kerontang
mengubah pola lahan pekarangan tanah kambera
menanam jagung
lalu padi hijau menguning
dan kutilangpun menyanyi dalam ceria
terbang menyusuri sungai
di geriap air sungai ditingkah perahu motor
mencari belanak

tapi tanah ini masih tetap panas
karena perbukitan sepi pepohonan
dan padang-padang membawa asap bakaran
ilalang
airpun berhenti mengalir
sumba panas
sumba gersang
sumba kering
membawa sembilu di relung hati
mengusung duka didada setiap
lelaki dan perempuan tanah sumba
tanah marapu
tanah leluhur
wahai, ingin juga menyapa negeri sumba
dalam sejuknya cuaca musim hujan
dan benih rumput tumbuh satu-satu
katakan saja
ada ingin mengubah wajah sumba
jadi pulau bertabur hutan tropis
tempat menginap sejuta burung
tempat berteduh kijang dan babi hutan
tempat air mengalir
membasahi tanah leluhur kita

yogyakarta, 01 mei 2004
umbu katuangu retang
----------------------------
DI SINI KUTULIS RINDUKU

galau juga hati
menyapa rerumputan ilalang coklat
di sabana tua
di atasnya menari lembut semilir angin kemarau
kadang kandas membias pada
pucuk-pucuk cemara meranggas
di tepi jalan lama tak kulewati

bahasa apalagi
ingin terlontar dari bibir-bibir merah menghitam
disaput sirih pinang bertahun lewat
wajah kita memang sudah semakin tua
mengiring langkah-langkah gontai
menyusur lereng-lereng bukit karang kapur
meski dalam lelah merayap dalam relung kepenatan
kehidupan
masih juga pahangu eri rambu balu
mengajak manginu kataitak  untuk berdendang
bermain di pucuk-pucuk padi menguning
mengisi rindu yang nakal
kadang datang
kadang pergi seenaknya
hatipun jadi kacau balau

jantungku berdegup keras
masih ingat nama dan kenanganmu
terjatuh di selokan lambanapu
kutulis dalam lipatan kertas kecil
kutulis lagi
ketika kulewati malioboro malam hari
dalam becak tua
menuju rimbun cemara
kampus biru gajah mada
di bumi kota sultan

ya, di yogya
kenangan padang sabana dalam kemarau terik
menggoda rinduku
ketika ringkik zandel
lenguh ongole  malam hari
mengganggu tidurku dan mimpiku
ingat rambu dengan sarung hitam
melilit tigaperempat tubuh
menuju sungai
membawa sebakul baju kotor untuk dicuci

hah, sumba................
lebih indah dari metropolitan jakarta
yang semakin padat dan tak punya perasaan
dengan kendaraan yang berlari memburu waktu
tanpa peduli
meski nyawa manusia jadi taruhan
aku ingin kembali memang
membersihkan makam papa di bunggur watu
mengajak mama sebentar tertawa
bersama saudara dan handai tolan
tapi disini
di yogya
telah kusimpan juga
hari esokku
dalam darah dagingku
ya, aku disini saja
dan bila aku masih juga rindu
ku tulis saja rinduku dalam puisi
menyapa sabana, sandel dan ongole

yogya, 06 Mei 2004
umbu katuangu retang

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking